Kamis, 21 Maret 2013

kerikil dan bebatuan kita

ada pepatah mengatakan bahwa 'air beriak tanda tak dalam'.
kata siapa?
bukankah semakin banyak riak, semakin banyak lengkungan yang terbentuk?
sehingga semakin banyak gelombang yang harus dihadapi?

ya, sama seperti kita
untuk sampai di sudut ini pun
berapa banyak riak yang sudah kita lewati?
berapa banyak lengkungan yang sudah kita hadapi?
berapa banyak gelombang yang sudah kita jalani bersama-sama?

ya memang, jalan yang kita lalui tak akan luput dar kerikil
atau bahkan mungkin bebatuan yang dapat menggoyahkan langkah kaki kita

ya memang, kita dapat melewatinya begitu saja
tanpa kita singkirkan kerikil dan bebatuan dihadapan kita
tapi tak kita sadari 
bahwa suatu saat nanti kita akan tersandung pada tempat yang sama
dengan kerikil dan bebatuan yang sama pula.

atau mungkin kita dapat menyingkirkannya perlahan-lahan
agar jalan yang kita lalui terasa lebih nyaman
agar tak perlu lagi kita menoleh ke belakang terus-menerus
dan mengalami luka yang sama di kemudian hari.

mampukah kita bertahan berjalan berdampingan selama yang kita inginkan?
dapatkah kita tak goyah saat kerikil dan bebatuan itu menghambat keyakinan yang sudah terbentuk?
akankah kerikil dan bebatuan itu tak hadir dalam setiap langkah perjalanan kita menuju kebahagiaan?

ya, semuanya kembali pada kita
karena kita ada, berkat aku dan kamu
bukan hanya aku atau kamu
tapi KITA


Biru yang Berpendar

aku adalah biru yang berpendar
berpendar dalam gelapnya malam
berpendar dalam kelamnya awan

aku adalah biru yang berpendar

berpendar dikala muram
berpendar dikala sunyi senyap

aku adalah biru yang tak berpendar

terkadang membutuhkan cahaya terangnya siang
terkadang membutuhkan indahnya kerlingan rembulan

aku adalah biru yang tak berpendar

yang padam dikala hujan
yang padam dikala badai

aku adalah biru

yang terkadang berpendar memberikan cahayaku kepadamu 
agar tetap dapat terang bersamaku

tetapi, aku adalah biru

yang tak berpendar
terkadang aku haus akan cahayamu agar kau tetap dapat berpendar bersamaku

namun biruku kadang tak secerah biru yang lain

kadang pendaran biruku redup dan hanya kau yang dapat mencerahkannya


kadang biruku sangat terang
dan hanya ingin kubagi pendaran itu untukmu.

-terima kasih telah menjadi terangku disaat gelap. dan mengingatkan bahwa ada gelap disaat terang.-